TRILOGI JAHANAM PART II: GONE WITH THE (BROKEN) WINGS

Pangeran Jahanam…

Aku tak akan pernah kembali ke
pelukan Bidadari”

Ehmmm Bidadari? Luka? Ahhhh dia
benar-benar memusingkan. Membuatku serasa ditikam belati berkali-kali
setiap mengingatnya. Bagaimana tidak? Aku mengenalnya ketika dengan
sengaja orang tua kami mempertemukan kami. Ya aku tahu memang gila,
di zaman maju begini masih saja ada skenario macam Siti Nurbaya. Bah,
kesel jadinya. Tapi tidak begitu ketika aku melihatnya pertama kali.
Dia begitu berbeda dengan cewek-cewek yang ku kenal yang selalu
terpesona melihatku. Dia sombong, dan menunggu untuk ditaklukan.
Ehmmm boleh juga…

Aku memang tidak jatuh cinta ketika
pertama kali melihatnya, tapi aku tahu dia berbeda. Jadilah
kami menandatangi kontrak di bawah tangan tentang perjodohan kami.
Dan seiring berjalannya waktu aku tahu untuk pertama kalinya dia
membuatku jatuh cinta. Bayangannya ada di setiap aktivitasku. Ahhh
membuatku gila saja.

Selayaknya
laki-laki yang sedang jatuh cinta aku melakukan semuanya. Ehmmm
berusaha membahagiakannya. Tapi cintaku bertepuk sebelah tangan. Dia
memang melakukan kewajibannya sebagai kekasih. Dia ada ketika aku
membutuhkannya. Dia menemaniku. Tapi hanya raganya yang bisa kudapat.
Hatinya tidak. Ahhhh apa yang harus ku lakukan? Menyerah? Sepertinya
itu bukan sifat seorang Pangeran. Maka aku menunggunya setiap saat.
Menunggu dia membalas cintaku. Kontrak  itu pun terlupakan.

Tapi
memang menyakitkan, bersama orang yang kita cintai tapi tahu hatinya
tidak untuk kita. Sering ketika ia bersamaku, dia melamun, pikirannya
entah dimana. Tersenyum dengan dunianya sendiri, menangis tanpa aku
tahu apa yang dia tangisi. Sungguh menyiksa. Sampai suatu hari dia
bercerita dia jatuh cinta pada orang lain. Sekali lagi apa yang harus
kulakukan? Memakinya? Menyuruhnya untuk meninggalkannya? Ehmm…tapi
itu tidak kulakukan. Rasa cintaku yang besar membuatku diam saja. Dan
malah menertawakan cintanya yang tak wajar.


Jadilah aku ban serep
untuknya. Dia mulai terbiasa menangis di bahuku, di pelukanku,
mengadukan dia yang membuatnya tergila-gila tapi selalu menyakitinya.
Aku selalu tergoda untuk mendatangi lelaki itu dan membuatnya babak
belur. Tapi itu tidak kulakukan. Aku diam, aku menikmatinya. Ya ya ya
aku tahu ini gila, aku menikmati setiap dia menangis di pelukanku
mengadukan lelaki lain…Arhhhh bidadari itu telah membuatku idiot.
Tapi memang itu lebih baik daripada dia di sampingku, berusaha
menemaniku dan pikirannya menerawang tidak bersamaku. Lebih baik bila
dia menangis dan bercerita. Aku merasa telah menjadi pangerannya yang
selama ini diimpikannya.

Dia
menyakitiku…sangat, dia tak datang ketika aku melamarnya. Dia
meninggalkanku ketika aku bersamanya. Seolah-olah menjadi
kewajibannya lah menemaniku, bukan karena keinginannya. Tapi aku
diam, aku sungguh mencintainya. Tapi bukannya aku pun tanpa cela. Aku
sering memaksanya, tapi aku tahu dia menikmati paksaanku. Dia tahu
aku masih dikelilingi banyak wanita. Aku pernah membuatnya melihatku
bercumbu dengan sahabatnya. Aku tahu dia terluka. Tapi dia tak mau
mengakui kalau dia punya perasaan sepertiku. Jika dia jahanam maka
aku pun jahanam.

Dan
saat itu pun tiba, 1 Januari…setelah pesta ulang tahun yang dia
tidak menghadirinya. Dia ingin merayakannya bersamaku berdua saja.
Jadi aku datang ke tempatnya setelah pesta  bersama teman-temanku.
Dia memberiku 7 sapu tangan merah. Katanya dia membatiknya sendiri
dengan tangan. Ditunjukkannya padaku telapak tangannya yang sedikit
melepuh. Ehmmm mungkin dia berubah.Malam itu aku akan melamarnya lagi
dan meyakinkannya untuk menerimaku.

Tapi
apa yang terjadi malam itu???

Dia
cantik malam itu, sangat cantik, dia duduk di depanku, kemudian dia
pindah ke sebelahku, dia menggenggam tanganku, menciumnya, dan
menikmati setiap inci tanganku.

aku
ingin mengatakan sesuatu, boleh?”dia bertanya.

Ahhhh
ini lah saatnya, saatnya sang bidadari mengungkapkan cintanya.

boleh
sayang” kujawab.

sudah
lebih setahun kan? Ini saatnya mengakhirinya”

apa?
Kenapa?” aku terkejut tak menyangka apa yang dia katakan.

kau
tahu maksudku, tolong bantu yakinkan mereka, kita sudah mencobanya,
tapi tidak berhasil, pliss, ini permintaan terakhirku”

arghhh
jadi itu maksudnya sapu tangan itu, untuk menghapus air
mataku…benar-benar kejam dia…aku tahu dia memilih satrianya…aku
tahu itu!

Aku
pun meninggalkannya dengan sejuta sesak di dada. Aku memohon untuk
membahagiakannya untuk yang terakhir kali, tapi dia tak mau. Dia
membatu, terisak pelan, air mata berleleran di pipinya. Dia menangis
entah untuk apa, entah untuk siapa. Karena aku tak menyakitinya, dia
yang menyakitiku, DIA YANG MENINGGALKANKU.

Setelah
malam itu, aku pun mati…aku kembali menjalani kehidupan hampa.
Tanpa ada penantian akhir pekan aku akan bertemu dengannya. Aku
mungkin masih bisa mengejarnya. Tapi untuk apa? Untuk kembali terluka
bersamanya. Untuk mendengarkan kisah cintanya bersama satria. Maaf
Bidadari, pangeranmu tak sanggup lagi. Dia benar…dia hanya seorang
Bidadari Jahanam. Aku membencinya! Sangat! Tapi aku tak bisa
mengenyahkan dia dari pikiranku. Dia bidadariku. Satu-satunya dan tak
akan pernah tergantikan!

Apa
dia menungguku? Apa dia menungguku untuk kembali? Sayang, aku tak
akan kembali padanya…TAK AKAN PERNAH!

Satria
Jahanam…

Dimana
bidadariku?”

Bidadariku?
Dimana dia? Dimana dia? Dia menghilang..Dia menghilang…

Apa
salahku? Kenapa dia begitu kejam, meninggalkanku tanpa pamit, tanpa
pesan.

Hanya
sebuah pertanyaan…

Kau
sayang Padaku? Karena aku sayang padamu”

dan ku
jawab bahwa aku sangat sayang padanya. Setelah itu dia tak ada…dia
menghilang!

Kemana
aku harus mencarinya?

Dia
bilang hanya aku kini. Dia bilang dia akan memilihku. Dia bilang dia
tak akan meninggalkanku lagi. Tapi dimana dia sekarang?

OK,
aku memang sering menyakitinya, aku tak pernah bisa membahagiakannya.
Aku ingin membahagiakannya sekarang, tapi dia tak memberiku
kesempatan. Dia menghilang!

Mungkinkah
dia tak akan kembali padaku? Apa yang telah kulakukan kali ini
sehingga aku diperlakukan seperti ini? Apa salahku?

Dia
kembali ke pelukan Pangerannya, dia pasti kembali padanya!

Apa
yang harus kulakukan agar dia bisa kembali padaku?

Bagaimana
kulewati malam tanpanya, bagaimana kulewati hari-hari tanpa
ocehannya. Kemana aku harus mengadu ketika aku sedih, ketika aku
sendiri dan butuh teman.

Tolong
jangan siksa aku seperti ini…

Bidadari
kembalilah…

Aku
tahu kini perasaanmu ketika menungguku, aku tahu perasaanmu ketika
kesepian itu mencengkram. Maafkan aku Bidadariku…Maafkan aku!

Kau
tak akan kembali bukan? Kau memilih Pangeranmu? Kau memilih dia yang
lebih segalanya dariku? Kau memilih dia kan?

Kau
bohong padaku ketika kau bilang hanya aku. Kau bohong kan???

Sekali
saja, izinkan aku bertanya, ada apa? Kenapa? Kenapa kau pergi? KENAPA
KAU MENINGGALKANKU?

Apa
kata-kataku siang itu menyakitimu, apa aku berlebihan ketika aku
memintamu percaya padaku?

Bidadariku…Jadi
itu maumu? Hah?

Kau
injak-injak aku, kau maki aku, kau hina aku seperti binatang! Kau
tuduh aku macam-macam, seolah-olah aku penjahat yang menunggu jerat
hukuman. Di lain waktu kau menyanjungku, kau memujaku, kau membuatku
seolah-olah hanya ada aku di kehidupanmu…Kau panggil aku jahanam
ketika aku menduakanmu, menghianatimu. Memangnya apa yang kau lakukan
padaku? Menjadikanku pemuas nafsumu saja? Kau juga sama Jahanamnya
sepertiku…Lebih jahanam daripada aku!

AKU
BENCI PADAMU BIDADARI! Kau telah mempermainkan aku!

Kembali
saja kau ke pelukan dia, ke pelukan Pangeranmu! SEMOGA BAHAGIA
DENGANNYA!

Sungguh
Biadab kamu bidadari, Sungguh Jahanam dirimu!

Tapi
dimana kau Bidadariku?

Bidadari
Jahanam…

Aku
tak bisa menyakitimu lagi”

Aku
mencintainya? Percayakah kalian? Percayakah kalian jika kukatakan aku
mencintainya, tapi kutinggalkan dia.

Sang
Pangeran yang membuatku merasa menjadi bidadari yang tak tercela.
Memujaku seperti Dewi. Aku sayang padanya. Tapi aku tak bisa
bersamanya. Karena hatiku tak pernah ada bersamanya. Aku memang
kejam, biadab, jahanam. Di saat ada orang yang mencintaiku dengan
sepenuh hatinya. Aku memilih orang lain dan jatuh cinta pada orang
lain.

Aku
sering menangis di pelukannya mengadukan dia sang satria yang tak
pernah berhenti menyakitiku, tapi tak bisa juga ku tinggalkan. Aku
tahu hatinya sakit ketika aku marah pada Satria dan bercerita
padanya. Aku tak bisa menyakitinya seperti itu. Aku tak bisa :( Maka
aku tinggalkan dia. Dan satu sayap kehidupanku pun patah bersama
berlalunya bayangan sang pangeran.

Setelah
kepergian dia. Aku hanya bisa terbang dengan satu sayap yang ku
punya. Aku kesakitan! Sangat!!! sekali-kali aku berharap dia kembali.
Kembali ke pelukanku dengan utuh. Bukan karena perjodohan itu, tapi
karena memang hatinya memilihku.

Suatu
kesadaran akhirnya membuka mataku. Dia tak akan pernah kembali.
Karena dia tahu aku hanya akan menyakitinya lagi! Ketika dia akhirnya
kembali pun, aku tak akan memberinya kesempatan untuk disakiti
kembali olehku. Jadi pelan-pelan kukubur kenanganku akan dia…

Sang
satria yang selalu menemaniku. Yang menerima segala perlakuanku. Yang
selalu mengingatku untuk menjaga diri. Yang menerima setiap amarahku
dengan tulus. Yang mencintaiku dengan tulus. Yang menyayangiku dengan
sepenuh hatinya…Yang ku cintai dengan segenap cinta yang ku punya.
Yang ku sayangi dengan selaksa sayang yang ku punya. Kehidupanku
adalah satria. Satria adalah kehidupanku.

Aku
mencintainya, tapi dia pun ku tinggalkan!

karena
aku tak bisa mencintai sekaligus menghina, menyayangi sekaligus
memaki, aku tak pantas melakukan itu padanya. Sungguh tak pantas!

Maka
aku pergi dari kehidupannya, tanpa meninggalkan apa-apa. Hanya sebuah
kenangan. Dan semoga kenangan yang Satria ingat adalah kenangan yang
indah bersama bidadari.

Biarkan
saja Pangeran menyangka Bidadari bahagia bersama Satria. Dan satria
menyangka Bidadari bahagia bersama Pangerannya.

Kau
tahu apa yang ku takutkan? Apa yang ditakutkan bidadari?

Aku
takut suatu hari ketika aku memutuskan akan kembali, tak akan ada
yang menerimaku.

ya
aku tahu saat itu aku hanya pantas mengasihani diri sendiri!

Aku
takut ada bidadari lain di kehidupan Pangeran dan Satria. Dan mereka
mengatakan pada kekasih-kekasihnya, bahwa aku hanya seekor bidadari
yang tak berarti apa-apa buat mereka. Bahwa sudah tak ada apa-apa
lagi antara aku dan dia (yang memang itu benar apa-adanya). Dan
mereka tak mengingatku sama sekali. Sedangkan aku membawa bayangan
mereka sampai terkubur tanah!

Akhirnya
sayap kedua yang kupunya pun luruh.

Coba
tanya pada hatimu Teman…Apa artinya seorang bidadari tanpa sayap?

Tak
ada apa-apanya…Tapi dia bebas! Dia tak akan lagi melukai. Melukai
orang-orang yang disayangnya, melukai dirinya sendiri. Dia kini
sendirian, kesepian. Tapi dia tahu dia akan bertahan. Kesepian tidak
akan membunuhnya. Kesepian tidak akan membunuhku!

Biarkan bidadari berlalu bersama
sayap-sayap patahnya. Biarkan dia menangis sendiri mengenang
sayap-sayap yang tak dimilikinya lagi. Biarkan dia sendiri merenungi
segala kejahanamannya!

Tak ada yang lain…tak ada yang
lain bagi bidadari! Dia hanya ingin Satria. Dia hanya mencintai
Satria. Dia selalu menunggu satrianya! Menunggu satria membawa
kembali kedua sayapnya! Tapi dia akan menerimanya hanya dalam mimpi.
Dia tak ingin lagi menyakiti Satria! Dia tak ingin lagi tersakiti dan
menyakiti! Dia sendirian…tapi dia tak akan mati!


Leave a Reply