Tangan beku, kaki beku, sekujur tubuh membeku, tapi kenapa hati masih bisa merasa perih ketika luka kembali tertoreh?

 

Sejumput Kebekuan di Malang Meriang, 16 Februari 2008

Tangan beku, kaki beku, sekujur
tubuh membeku, tapi kenapa hati masih bisa merasa perih ketika luka
kembali tertoreh?

 

Dia kembali dalam wujud yang lain,
bukan lagi perih, bukan lagi sakit yang membuat Sang Bidadari
menangis semalaman! Luka itu kembali dalam wujud kesunyian. Seperti
kembali ke titik nadir dimana Sang Bidadari berusaha mencari
sandaran, hampir putus asa, karena Pangeran tak pernah kembali ke
peluknya, sementara Satria perlahan mulai meronta dan mencari jalan
agar lepas dari penjara luka Bidadari.

 

Bidadari tak bisa terus menerus
terpenjara sunyi. Dia harus tetap terbang bahkan kalau pun
sayap-sayapnya patah! Maka Bidadari memberanikan diri kembali ke
istananya. Istana tempatnya dulu bercumbu rayu dengan Pangerannya.
Bidadari berharap  Pangerannya menunggu disana. Tapi Bidadari harus
kecewa, Istananya sunyi, sama seperti hatinya: HAMPA. Bidadari
menelusuri setiap ruangan. Ruang-ruang bisa yang pernah menjadi saksi
luka hatinya bersama Pangeran. Dia menahan tangis, menggigit bibir
hingga terasa asin karena setitik darah mengucur dari sudut bibirnya.

 

Menyakitkan…mengharapkan Pangeran
kembali dengan hatinya dengan tekad utuhnya untuk meminang bidadari,
bukan karena titah Sang Raja, bukan pula karena desakan Sang Ratu.
Tapi karena hatinya yang memilih Bidadari untuk menjadi
permaisurinya!

 

“Pangeran, apa kau belum menemukan
pesan di 7 saputangan itu? Pesan yang ditorehkan Bidadari dengan
tangannya”

“Ataukah kau telah menemukannya, tapi
memilih menghukum Bidadari agar menunggumu?”

“Apa kau ingin Bidadari berjanji
untuk membuang Satria di hati Bidadari dan saat itu kau akan kembali
padanya?”

 

Bidadari disana di sudut kamar,
berdialog dengan sunyi, merosot dan terduduk, tersedu, diabiarkannya
air mata menetes satu-satu di wajahnya!

 

Sampai matanya menangkap satu benda
terbungkus rapi. Di atasnya ada sebuah kartu, Bidadari mendekat,
membuka, dan membacanya…

 

Cay, valentine penuh merah jambu,
lihat merah jambu, ingat kamu, ingat kamu yang benci merah jambu

 

Untuk siapa surat itu? Untuk
Bidadarikah? Ahhh memangnya wanita mana lagi yang dikenalnya yang
membenci merah jambu, hanya Bidadari kan?

 

Setitik kebahagian merayap, tapi hanya
sekejap….

 

“Ah Pangeran, kau menyiksa Bidadari,
kau ingin menghukum Bidadari dengan harapan-harapan kosong?
Membiarkan Bidadari  terus berharap sampai dia merana dan bunuh diri
karena akhirnya tahu harapannya hanya ilusi belaka”

 

Bidadari keluar dari istananya, di
halaman seorang Bapak Tua menunggu,

 

“Dia kesini kemarin, bertanya
tentangmu, aneh seperti anak kecil saja kalian, main
kucing-kucingan!”

 

  • ya…dia memang kesini, tapi tidak
    menemui Bidadari, dia terlanjur pengecut untuk menemuinya dan
    berusaha memperbaiki sayap-sayap Bidadari…

  • ya…dia bertanya tentang
    Bidadari, tapi dia tak berani bertanya langsung kepadanya, sama
    seperti dulu dia terlalu takut untuk bilang dia mencintai
    Bidadari…

 

Ok Pangeran jika itu maumu, Bidadari
akan menunggumu, menunggu hingga Bidadari membusuk!

Ok jika itu maumu…kau akan mendengar
cerita Bidadari mati karena menunggu Sang Pangeran!

 

Lihat Pangeran, tangannya, kakinya,
sekujur tubuhnya membeku, tapi sayangnya hatinya tidak! Dia kembali
mengucurkan darah dari perih luka yang kau torehkan Pangeran!

 

MONYET SIA MANEH R*** PAEHAN BAE
AING…PAEHAN MONYET b-(

 

 

One Response to “Tangan beku, kaki beku, sekujur tubuh membeku, tapi kenapa hati masih bisa merasa perih ketika luka kembali tertoreh?”

  1. Bulan Says:

    Masih gila ?
    ataw tergila-gila…?
    kapan mo masup RSJ ?

Leave a Reply