SI CANTIK DARI JEMBATAN SOEKARNO-HATTA
aku kembali ke sebuah sudut ruangan,
luas teramat luas, tapi terasa mencekik
karena sunyi yang mencekam.
setiap detik kunikmati dengan getar
gelisah yang kuharap bisa membunuhku…
setiap cahaya yang masuk ke sudut
ruangan tempatku bersandar lelah
menunggu, ku harap menjadi serombongan
malaikat maut yang menjemputku untuk
bersandar di ruang dimensi yang lain.
andai saja aku tahu klo canda tawa
bersama sekelompok wajah2 mungil di
suatu siang adalah canda tawa terakhir
yang ku temui, mungkin akan kuciptakan
sejuta canda setiap siang bersama mereka.
andai saja aku tahu klo ciuman selamat
malam di suatu pagi buta adalah ciuman
terakhir yang kudapat dari sisa2 kasih
sayang seorang manusia yang menjadi
perantara aku ada di dunia, mungkin akan
ku habiskan seumur hidupku untuk
mematuhinya…
andai saja aku tahu amarah yang kudapat
di suatu senja adalah amarah terakhir
yang kudapat darinya,
akan kuhabiskan
seumur hidupku untuk mendengarkannya…
hampa….
sunyi yang membunuh…
ketika aku berkelit darinya…
kudapati diriku di sudut sebuah jembatan…
aahhhh klo saja ku putuskan untuk
sekedar menengok ke dasar jurang itu…
mungkin akan ada pengganti si manis dari
jembatan ancol…
ohhh mungkin nanti aku akan beken
sebagai si cantik dari jembatan
soekarno-hatta…
sebuah tawa terdengar garing…
aku pun melangkah, sampai di suatu rumah
kuintip penghuninya…
ahhh "sudahlah sayang, kamu sebatangkara"
aku tak percaya aku bisa homesick
seperti ini, bahkan aku tak pernah
berpikir ketika pergi dari dekapan orang
tua aku akan merindu mereka seperti aku
merindu cahaya di saat gelap…
pernah ku telpon seseorang ketika
saatnya sahur, kemudian ada suara yang
memanggilnya ke meja makan…
nyaris saja aku berteriak agar aku
diajak juga, tapi kemudian aku sadar itu
tindakan gila,
karena ternyata aku
bermil2 jauh darinya.
aku sudah mencobanya teman, aku kembali
ke dunia nyata, aku tertawa bersama
segerombolan teman, aku bermain bersama
sekelompok kawan, bernyanyi, berpesta,
menikmati kebersamaan, tapi tak ada yang
sanggup menemaniku ketika sunyi sudah
demikian menyesakkan dada…
dan malam2ku, dinihariku ku lalui tanpa
kantuk…hanya mata nyalang dengan otak
yang mengembara ke setiap drama
kehidupan yang kujalani…
pernah kususuri jalanan,ketika ada
kendaraan dengan kecepatan tinggi
menghadangku, santai aku
menyambutnya…ajhhh ‘hampir saja’ aku
ringsek bersama kendaraan yang kubawa…
sayang, kendaraan itu tak lebih cepat
menghampiriku…
lihat malam ini, aku kembali mengembara
di dunia maya, menuliskan malam2 di
jembaran menuju dimensi lain kehidupan…
bahkan ketika setiap detik otakku penuh
dengan bayangan seseorang yang merajai
hatiku, tak sedetik
pun ia mengingatku…
orang menyedihkan macam apakah aku ini?
menguras air mata di sepertiga pagi,
curhat pada Sang Maha Pemilik Hidup…
tapi setengah doa kupenuhi dengan
gugatan, kenapa aku yang harus sendiri?
kenapa aku tak pernah bisa memutuskan
hal yang benar? kenapa aku harus
menjalani hidup dalam sunyi? kenapa
hari2ku penuh dengan kebahagian maya?
(Ya Allah Mohon AmpunMu)
jika saatnya tiba, aku ingin dikenang,
tapi bukan sebagai si cantik dari
jembatan soekarno-hatta, aku hanya ingin
dikenang sebagai seorang anak yang
merindu pelukan tulus, aku ingin menjadi
peringatan bagi anak2 yang memberontak
dari dekapan orang tua,
"keluar dari rumah berarti siksaan sunyi
siap menghadang!"
–ntah pagi, ntah masih malam, ketika
penantian sebuah suara membuat malam
makin menggila–