BIDADARI TAK TERSENTUH
Catatan Malam 17 September 2007
Prolog:
seperti apa rasanya bertemu lagi dengan orang yang kau cintai tapi kau tak pernah mendapatkan jawaban ‘ya’ dari mulutnya walau kau yakin dia memiliki perasaan yang sama denganmu?
Kisah ini hanya salah satu kisah dari ribuan kisah yang tak menjamin bisa menjawab pertanyaan itu.
———————————————————-
Malam ini aku tak percaya akan melihatnya lagi setelah sekian lama, dan terus terang saja rasanya aku ingin melonjak-lonjak bahagia. Dia seorang "pemain" yang pernah menjadi sahabat terbaikku sekaligus orang yang benar2 kucintai ada di sudut ruangan sebuah cafe biasa yang selalu kudatangi untuk istirahat sejenak dari rutinitas yang menyebalkan.
Aku berharap aku tak sekucel ini ketika bertemu dengannya lagi. Rasanya sudah satu bulan aku tidak mandi, tidak menyisir rambut, tidak cuci muka, gara2 client sialan dalam salah satu kasus bajingan yang sedang kutangani. Tentu saja itu tak mendukung untuk memberikan kesan baik padanya.
Dia duduk di meja favoritnya, ada sebuah buku yang dia baca dengan serius, dan tentu saja ada minuman di mejanya yang aku yakin itu chococino.
Ehmmm dia masih sama seperti terakhir kulihat: cantik, wajah gabungan dari kedewasaan dan kekanak2an, mungkin masih manja dan senang merajuk.
Ahhh rasanya sudah sejuta tahun aku tak melihatnya, aku sadar sekarang betapa aku sangat merindukannya selama ini dan tak dapat kupungkiri aku masih sangat mencintainya.
Aku pun duduk di depannya, aku tak berbicara, hanya memandang bibirnya. Dalam hati aku bertanya masih maniskah rasanya? masih sering menyakitkan kah kata2 yang keluar dari bibirnya? bibir yang kini menyungging senyum itu masihkah sering memaki?
Pandanganku beralih ke mata beningnya yang terkadang bisa mengintimidasi tapi terkadang polos hampa dan sering terlihat seperti tak bernyawa.
Ehmmm…Rambutnya masih tebal dan hanya diikat seadanya. Melihat rambut itu membuat debar jantungku makin keras, ada tanya menyeruak: lelaki manakah yang beruntung mengusap rambutnya setiap malam atau setiap saat ketika ia lelah dan menjadi manusia biasa yang berkeluh kesah dengan air mata?
Pipinya….ehmmm dadanya…
Ah SIAL kenapa harus lagu itu yang terdengar…
"aku ingin bercinta karena mungkin ada kamu disini aku ingin…"
Dia sama sekali tak sadar akan kehadiranku. Dia masih sama seperti dulu, buku bisa membuatnya lupa dunia sekelilingnya. Aku tak mau mengganggunya, tapi aku sangat ingin menyapanya. Maka kupanggil namanya, nama kecilnya, nama yang selalu ku teriakkan ketika aku berada di ujung…dan ingin menggapai nirwana…
"LALA"
Dia mendongakkan kepalanya, mata bening itu kini memandangku, terkejut melihat seorang ex-laki2 terbaiknya kumal dan terlihat seperti tak pernah tersentuh air seumur hidupnya.
"Hai…"
Sejenak aku bengong, dia tampak merenung hanya senyum menawan yang bertengger di bibirnya. Mungkin memang malam ini dia sengaja ke cafe ini dengan harapan akan menjumpaiku seperti biasa dan ketika dia benar2 menjumpaiku dia terkenang asam manisnya menjalani hari2 bersamaku.
"Apa kabar?"
Dia menyapku. Aku tak ingin melepas tangannya. Bahkan klo saja aku punya borgol, aku akan mengikatnya hingga menyatu dengan tanganku dan jangan harap aku mau melepasnya. Tapi kenapa dia tampak jauh untuk dijangkau? Bahkan walaupun dia kini ada di hadapanku dengan tangannya ada di genggamanku, dia seperti meronta-ronta ingin melepaskan diri…
Aduh kenapa lagu itu lagi seh?
"aku ingin bercinta karena…"
Basi-basi pun tak bisa dielakkan, sampai pembicaraan itu tak terhindarkan.
DIA:
"aku berpikir aku akan merana, terpuruk ketika tahu kembali dengan seorang wanita yang kau perkenalkan sebagai istri. Hanya Tuhan yang tahu kenapa aku masih bisa tersenyum sekarang"
AKU:
"Jadi kabar dia bagaimana?"
DIA:
"Baik, istrimu?"
AKU:
"Sebentar lagi seorang jagoan akan lahir di rumahku"
Dia terkejut dan rasanya tak GR klo kubilang ada luka di matanya. Ah mungkin dia berpikir seharusnya dia yang jadi ibu dari putra-putriku.
DAN AKHIRNYA: Setelah sekian lama akhirnya aku berhasil mengungkapkannya, walaupun seperti dia bilang ‘GOMBAL’ dan kita sama2 tahu: bahwa kita hanya 2 orang pemain yang kebetulan jatuh cinta dan mengalami nasib tragis, hanya karena kata C yang terlambat diungkap.
Dia bercerita tentang kekasihnya, tentang kesepiannya setelah tak bekerja lagi, tentang hobi chatingnya yang dia bilang:
"aku bisa gila klo gak chating sehari saja"
Kutawarkan diri sebagai obat sepinya. Tapi seperti yang telah kuduga dia menolaknya (namanya juga usaha :d).
Dan aku pun bercerita tentang bagaimana aku melewati malam dengan bayangan dia di otakku, bagaimana akhirnya aku bisa menyentuh istriku dan tanpa sadar ku sebut namanya yang tentu saja menimbulkan genangan air di mata istriku.
Bahkan yang paling memalukan ku ceritakan padanya. Aku bercerita tentang usahaku mengintipnya dari balik meja kerjaku, memandangnya sambil pura2 mengetik, sempat melihatnya ketika dia meneteskan air mata di depan komputer yang waktu itu aku berpikir ‘dia masih terluka mengingatku’…(mendengar cerita ini dia tertawa, tepatnya menertawakanku, cukup untukku menyimpulkan apa yang ku pikirkan tak sama dengan kenyataan sebenarnya yang dia hadapi saat itu).
Aku tak percaya di hadapan dia aku bisa bercerita tentang penderitaanku, derita cinta yang kandas karena ketidaktegasanku untuk meyakinkan dia bahwa dia juga mencintaiku.
Aku sempat bilang padanya, klo saja bisa memutar waktu, aku akan bilang kata C itu sejak pertama kali bertemu dengannya dan bukannya menjadikan diri masing2 sebagai sampah untuk petualangan2 gila bersama sekelompok boneka2 mainan kami.
Cerita menyakitkan ku dengar dari mulutnya, dia yang berencana menjawab kata C yang sering terlontar dari mulutku dengan kata C juga kalau bertemu lagi denganku sampai dia berniat mengenalkanku dengan ibunya. Tapi akhirnya dia harus menghadapi kenyataan: aku datang bersama seorang istri.
Dia bercerita bagaimana dia merasa kehilangan sahabat berbagi suka dukanya, rekan kerja seperjuangan, sahabat bermabuk2an, sahabat yang paling terbuka dengan semua makian yang terlontar dari mulutnya. Dia juga bercerita tentang bagaimana resahnya dia harus menghadiri resepsi pernikahanku seorang diri. Sampai kemudian dia memutuskan untuk mengundang tunangannya untuk pamer padaku bahwa dia baik2 saja.
Sampai akhirnya kejadian itu tak terelakkan, bukan aku yang mencintainya dan yang dicintainya yang membuatnya meraih nirwana, tapi orang lain yang tak dicintainya dan tak mencintainya.
Pukul 1:30 waktu malang aku mendapat telpon kangen dari istriku. Aku dapat menangkap tatapan iri, tangannya diremas2 gelisah. Ah…dia cemburu! Pada akhirnya sama saja: aku harus kembali pada realita dia sudah tak terjangkau lagi.
Akhirnya aku berpamitan dan dengan basa-basi dia menawarkan diri untuk mengantarku. Mungkin dia mengira aku akan menolaknya, tapi dia keliru aku tak akan pernah melewatkan sedetik pun kesempatan untuk bersama dengannya (lagi). Walaupun itu artinya aku terpaksa berbohong klo aku tak membawa kendaraan.
Satu hal yang kuduga dia menepikan kendaraannya di sepotong jalan yang membisu. Ku pikir ini akan jadi awal affairku dengannya. Tapi ternyata aku salah. Dia hanya…
"tolong katakan sekali lagi"
"apa?"
"pliss, kau tahu?! aku akan menjawabnya sekarang…"
"I LOVE U"
"I LOVE U TOO, Thanks"
Dia genggam tanganku, menciumnya dengan tulus (kata hatiku: bukan tanganku sayang, tapi bibirku...:d). Sepertinya beban di hatiku menguap dan aku pun tahu dia lega telah mengatakannya! Walau mungkin perasaannya tidak sama seperti dulu, ketika tak ada orang lain yang ada di antara kita.
Di akhir perjumpaan kami, aku sempat bilang padanya:
"aku punya permintaan, klo kau pernah mencintaiku dulu, dan jika kini kau dekat dan nyaman dengannya, tolong katakan saja padanya bahwa kau juga mencintainya, jangan terlambat mengatakannya"
Aku ingin sekali mengecup dahinya, hanya sekedar untuk mengenang wangi rambutnya dan mungkin kecup perpisahan…
Tapi yang ku lakukan hanya tersenyum, menyentuh bahunya, bahkan kata terima kasih karena telah mengantarku tak bisa kuucapkan.
Aku melangkah pergi, bukan hanya dari mobilnya, tapi juga dari hidupnyua, dari hatinya…
"selamat jalan permaisuri hatiku, semoga damai hidup keduamu disana…"
Aduh b-( lagu apa lagi seh itu? bikin tambah mumet saja…
—————————————–
Epilog:
kau tahu teman? malam berikutnya aku hampir memindahkan meja kerjaku di cafe itu, berharap dia akan ada di sana lagi…tapi dia tak pernah ada lagi di sana…
Dia benar2 pergi dan memang itu yang terbaik untukku dan untuknya. Dia memang sudah tak bisa kusentuh lagi…dia telah pergi…dia yang pernah menjadi bidadariku kini tak tersentuh lagi.
October 30th, 2007 at 9:19 am
waaaa jigana aya nu GR seh =)) =))
December 5th, 2008 at 11:55 am
kasih tak terpisahkan.
realita mengekang bersatunya
norma-ya-norma mengekang kehendak kasih-nya
amat meyiksa
gentle
dewasa bnget
sensasinya terumbar
inspirasinya keren
ajari aku donk
December 6th, 2008 at 3:08 am
karl siapa yah? hahaha…
klo menulis menulis saja dengan hati…
gak usah dibuat-buat…
cukup hanya tentang diri kamu saja,
tak perlu orang lain jika tak bisa,,,
hehehe…
‘begitu sabda luka’