TRILOGI BIADAB: SATU PANGERAN, DUA BIDADARI (PART 1)

 

Prolog

Begitu
sulitkah bagimu untuk mencintaiku dengan tulus?

Ataukah
memang cintamu begitu mahal hingga harus kubayar dengan seliter
darah?

Kini
aku hanya punya sesosok tubuh hampa yang akan kujual padamu,

Tolong
bayar dengan secuil cinta yang kuinginkan!

 

Siang
Biadab,17 Agustus 2007

 

Pagi
tadi dia tak menjemputku! Biasanya dia membangunkanku dengan seribu
godaan, tapi pagi ini dia tak ada. Hanya sebuah sms yang memintaku
untuk menemuinya.
Aku pun bergegas, sepertinya ada yang ingin kusampaikan padanya siang ini…


Sebuah
mobil yang sangat ku kenal terparkir di depan rumah, ada firasat aneh
yang menyergap naluriku, tapi aku terus melangkah…

 

Hingga
kuinjakkan kaki di sebuah ruangan…

 

Disana
di sudut sebuah sofa dia bersama seorang wanita, wanita yang sangat
ku kenal, wanita dari sebuah kisah masa lalu yang membuatku terpaksa
menjalani hukuman di penjara lukanya cinta menyakitkan…

 

Tanganku
terkepal, ruang2 kosong tercipta di hatiku…

Tiba2
saja aku sadar: aku sendirian, tanpa pangeran, tanpa bidadari…

 

Aku
tahu, mereka tahu aku ada disana, tapi aku dianggap semilir angin,

Kusaksikan
semuanya sampai selesai, Kini cairan dingin membeku di hatiku…

 

Semua
menjadi jelas, ketika dia kutolak, dia lari ke pelukan wanita itu…

Sebening
air mata mengalir, ya ampunn…luka ini lebih menyakitkan dari luka2
lain yang pernah tergores!

 

Kuambil
pas bunga kujatuhkan tanpa ekspresi, kuambil gelas kubanting dalam
bisu-ku…

Ku
hampiri mereka melewati serpihan kaca2 pecah…BEKU…tak ada sakit
yang terasa, walau jejak darah terlukis di bekas jejak langkahku…ku
hapus air mata…

 

Kekasih-kekasihku…begitu
putus asakah kalian karena tak bisa menyentuhku?

Kekasih-kekasihku…sepecundang
apakah kalian, hingga ketika tak bisa membawaku mengarungi lautan
nirwana kalian buat skenario biadab untuk membuktikan aku hanya
seekor budak yang gampang diperintah oleh secuil hasrat?

 

Kekasih-kekasihku
sedangkal apa cinta kalian padaku, hingga ketika kalian tahu aku
membuang jauh segala memori tentang kalian, kalian bersatu untuk
menunjukkan bahwa aku hanya sesosok wanita munafik yang sok suci?

 

Ketika
bibirku ada di telinganya kubisikkan sebuah kata: “fuck u”

Ketika
mataku menusuk di mata wanita itu kugumamkan sebuah kata: “bitch”

 

Dan
aku tertunduk dalam bisu hingga sumpah serapah mulai keluar dair
bibir mereka, sejuta makian menikam….

Aku mati dalam lautan tawa…

 

Kuseret
langkahku, jejak darah mulai membuatku tak berdaya, aku berusaha
bertahan, aku merintih…hingga seorang laki2 tua menolongku…

Bahkan
mereka tak berusaha untuk menghapus jejak darah dari kakiku…

 

sampai
ku tertidur di sudut ruang putih, hampir terlelap, harapanku ada
dering telpon yang membangunkanku dari mimpi buruk, tapi ketika
kubuka mata: perban di kakiku teramat nyata untuk kujadikan semu…

 

Aku
pun kalah oleh penyesalan: kenapa kakiku yang tergores pecahan kaca
bukan urat nadiku yang putus?

 

Epilog:

Pangeranku,
jika kau mengaku mencintaiku, dan aku bilang aku juga mencintaimu,
katakan apa yang harus kuberikan padamu? Kau ingin ragaku?
Silahkan…tapi dia tinggal mayat dingin yang hampir membeku, hanya
ruang2 hampa dimana kau bisa berlomba dengan gema suaramu sendiri!
Maafkan aku sayang aku telah mati…kau yang membunuhku…

 

Bidadariku,
jika kau telah rela dan aku bilang terima kasih, katakan apa yang
harus kujual? Impianku? Atau jiwaku? Padahal dulu aku sempat
bermimpi menjadikanmu daratan terakhir untukku berlabuh dan
bersembunyi dari kungkungan dunia yang tak memihakku, maafkan aku
sayang tak bisa ku arungi lagi lautan bersamamu, aku tak punya apa2
sekarang, bahkan sampan rapuh sekalipun…

 

 

 

Leave a Reply