Archive for April, 2007

DIA MEMBENCIKU KARENA “DEBU ITU”

Monday, April 30th, 2007

 

Malang berdebu dan terpanggang matahari,

30 April 2007…

 


Saatnya mencuri di swargaloka,

Tapi dimana ia ada?

Mungkin di balik desahan malam, kuburu ia kesana,

Aku terengah, aku jatuh, aku terperosok,

 

Saatnya merampok nirwana,

Tapi dimana ia ada?

Mungkin di balik kesenangan semu, kukejar ia kesana,

Aku terengah, aku bahagia, aku tertipu luka,

 

Saatnya membajak bahagianya taman langit,

Tapi dimana ia ada?

Mungkin di depan mata sayu, di bibir yang tak henti tergigit, di wajah yang
bersemburat merah…

Kurasakan itu…kurasakan itu…

Aku tersiksa, aku tak bisa menahan diri…

 

“12 jam aku nunggu”

“nunggu apa?”

“ahhhh…”

 

“berhenti gak? Berhenti gak?”

—-tidak! Aku tidak bisa berhenti,
aku ingin…aku ingin..
.—-

 

“BERHENTI TETOT!!!”

jangan…pliss…jangan suruh aku
berhenti pliss

 

“aku haus, tolong hilangkan
dahagaku dengan bibirmu sayang…”

“gak!!!”

“pliss!!!”

“gak!!!”

“ahhhh…”

 

aku kekeringan sayang, aku tandus,
tolong siram aku dengan hujan perih dari bibirmu sayang!

“gak!!!”

“pliss!!!”

“gak!!!”

“ahhhh….”

 

Aku tersedu tanpa air mata, kuarungi lautan sendirian, tanpamu…

 

Gumpalan debu menempel, aku benci, aku kotor, tolong cuci aku sayang!

Tetesan keringat melekat,  aku ingin
menghilang, aku basah oleh kutukan, tolong keringkan aku sayang!

 

KAU MEMBENCIKU CAY???

KARENA AKU BERDEBU???

KARENA ADA KERINGAT MELEKAT DI TUBUHKU???

KAU MEMBENCIKU???


Kau membuat skenario agar aku menjauh?

Kau buat naskah agar aku menghindar?

Itu maumu sayang?

 

Kau mau aku pergi???

Aku selalu memaksamu???

Jadi itu maumu selama ini?

Meninggalkanku??? =(( :((

—————————————————————-

 

NIRWANAKU…

Wednesday, April 25th, 2007


Malang dibuai amukan kerja
25 April 2007

Dulu ketika awal kupijakkan kaki di kampus biru, nirwanaku adalah ruang2 kuliah, dimana kubantai setiap dosen oon yang harusnya belum lulus jadi mahasiswa,
Kini ruang2 kuliah begitu membosankan, dengan dosen jadul bin otoriter, diktat lecek yang hampir jadi fosil,
(nembe karaos semester ayeuna bosenna kuliah di fak hukum)

Dulu ketika semangat terjun ke sistem busuk bernama hukum, nirwanaku adalah associate, dimana kutemui bermacam2 orang dengan sisi devil yang nyata yang harus kutaklukan,
Kini associate begitu menyebalkan, dengan jam kerja yang tanpa batas, rekan yang menghalalkan segala cara, sampai penjajahan yang merenggut kebebasan dan kesenanganku (baca:ceting), penjajahan atas nama peningkatan kualitas teori2 hukum yang siap memperkosa diriku dengan setumpuk text book, setumpuk aturan, setumpuk putusan pengadilan, dan setumpuk kasus yang harus dianalisis,

Dulu ketika buku masih kugilai, nirwanaku adalah perpustakaan, dimana kubabat habis setiap huruf, setiap ejaan,
Kini perpus begitu konvensional, antriannya begitu menyiksa, buku2 jadulnya membuatku hilang rasa (he9, sebenarnya ada seorang pegawe perpus yang nyebelin seh, walau udah dikempesin ban motornya, tetep aja gak rubah!!! pusing dah!!!)

Dulu ketika persahabatan masih begitu erat, nirwanaku adalah kosan, dimana kedamaian adalah bagian darinya,
Kini kosan terlihat seperti tungku, dimana tuntutan dan api permusuhan mulai jadi bagian keseharian,

Dulu ketika idealis masih tinggi, nirwanaku adalah ruang2 diskusi para aktivis, dimana argumentasi begitu mudah dikeluarkan, opini begitu mudah dicetak,
Kini ruang2 diskusi aktivis menjadi bagian dari omong kosong (maaf, tidak semuanya seh), yang kulihat cuman NATO (no action, talk only),

Satu tempat akhirnya kurancang sebagai nirwana, setelah dia kembali ke sampingku, nirwanaku adalah dia yang menemaniku menyusuri jalanan, janjiku adalah menyayangimu :-*,

TAPI KETIKA SEMUA TEMPAT AKHIRNYA  MENJADI KAMP PENYIKSAAN BAGIKU, NIRWANAKU ADALAH HATIMU SELALU,
DIMANA KUNIKMATI SEJUTA RASA,
TERIMA KASIH UNTUK MEREDAM KEANGKUHANKU…

I LOPE U CAY!!!

——————————————————–

KUSUGUHI IA AIR MATA

Sunday, April 22nd, 2007


Malang dalam Ruang Konsentrasi

21/22 April 07

Suara yang kurindu kusapa ia sejenak…damai dan aku kembali terlelap…

Sebuah suara lain kudengar…sayup-sayup..aku pun terjaga…

 

Suara itu? Suara itu? Suara yang
membuatku terpenjara dalam sel-sel cinta menyakitkan!

 

Aku bangkit….gila banget, kapal pecah pun tak sebanding dengan
semrawutnya kamarku…

Ada yang perlu kuselamatkan, Prenku…dimana? Dimana bagian hidupku? Dimana
jembatan penghubung kembara cintaku?

Kutemukan di bawah bantal, cepat kumatikan, kubuka lemari, kukubur ia di
bawah baju2…

Aku kembali ke bawah selimut, pura-pura terlelap, jantung berdentam sangat
cepat…

 

Ada apa dengan dirimu? Kenapa
takut? Kenapa menggigil? Adakah kau telah menikamnya dari belakang? Adakah kau
sedang meracuninya dengan cinta menyakitkan? Adakah dirimu merasa telah
selingkuh di belakangnya?

 

TIDAK!!!

Cinta tak bisa memilih Jendral!
Cupid yang tidak mengerti kemana ia harus melesatkan panahnya! Cupid yang
miskin hanya bisa memanah dengan anak panah tumpul! Aku tidak
menghianatinya…TIDAK!!!

 

Seikat bunga di mataku, seulas senyum yang merindu, kulihat warna itu,
warna yang membuatku terdorong menjadi psikopat…

 

Ahhh Aku tak butuh bunga lagi
Pangeran, aku ingin kunci kebebasan…tolong berikan padaku, tolong Pangeran!

 

Aku protes dengan kedatangannya yang tanpa pesan, dia bertanya tentang yang
hilang di garasi, aku pun bercerita tentang polisi busuk yang merebutnya
dariku…Sejuta omelan pun kuterima…

 

“Lo anggap apa gw? Masalah serius begini, lo gak bilang?”

“Kan yayangna gi sibuk, ntar ganggu lagi”

 

Ahhhh kau tahu pangeran siapa
dirimu bagiku?

Seorang pangeran yang telah
kuimpikan sejak sejuta tahun yang lalu, aku hanya tak mengerti ketika kau
datang sebagai penyelamat, kau penjarakan aku dengan cinta tulusmu, kau
penjarakan aku dengan sejuta perhatianmu, kau penjarakan aku dengan sejuta
pesona yang orang menganggap gila karena tak terpedaya…

 

Sekali lagi dia berkorban, dia ikuti naluri busuk sebuah birokrasi,
sendirian, aku kembali ke pangkuan keruwetan associate yang mulai menyebalkan…

Lepas dari pertemuan penuh hujan logika, aku melayang di dunia ilusi, ada
seorang teman menungguku “Wer ar u? Dont
leave me alone! I’m so lonely
”, kusapa dia, sambil menunggu satriaku,

 

Cemas…dimana dia? Dimana dia
yang telah kusakiti? Dimana dia satria yang rela menerima luka? Dimana?
Akhirnya dia muncul…Ada tusukan perih di jantung, aku ingin disampingmu, aku
ingin mencumbumu…

 

Kutemani dia bercerita tentang ganasnya kehidupan, kunikmati setiap detik
bersamanya, kunikmati bersama amarahnya sang pangeran yang terjebak dalam
permainan birokrasi busuk nan menjijikkan…sampai akhirnya kutinggalkan
satriaku, kembali ke dunia nyata dimana harus kusiapkan setumpuk skenario untuk
menghadapi kenyataan bahwa yang disampingku bukan yang kudamba…

 

Pangeran…

 

Dia datang dengan wajah ditekuk, sejuta makian dari mulutnya, sejuta
omelan, aku diam, aku bungkam, tak berusaha menenangkan hatinya, kubiarkan ia
mengeluarkan isi hatinya,,,

 

Dia memaki, aku terbang bersama sayap patah dan hati pedih, sisa hujan
menetes sebentuk gerimis, ia melambai mengajak untuk menikmati sakitnya luka,
satu…satu air mata menetes, jatuh mengalir menganak sungai di pipiku, aku
menjerit tanpa suara…

 

“sampai kapan harus begini
terus?”

“selama luka itu mengendap di
hatimu, My Angel”

“sakit banget rasanya”

“tidak apa2, nantinya juga
terbiasa”

“aku memang sudah terbiasa dengan
luka ini”

“So Whats problem My Angel?”

“pedih…perih…rasanya tak
tertahan”

 

“WOI!!! KLO ORANG NGOMONG DIDENGERIN!!!”

Aku terjatuh kembali pada kenyataan, aku menoleh spontan, air mata
membayang, dia terkejut…

 

“BRENGSEK!!! Dua kali gw datang jauh2 nemuin lo, cuman disuguhi air mata,
BRENGSEK!!!”

 

Aku terisak “maaf” sebuah suara tertahan keluar dari tenggorakanku…

“SUDAH DIAM! CENGENG! HAPUS AIR MATANYA!”

 

Mari Pangeran lihat jiwaku? Lihat mata sembabku, lihat pipi merah basah
ini, lihat darah merah di hatiku,

 

Mari pangeran dengar hatiku? Dengar detak jantungku, dengar bisikan
kalbuku, dengar dari isak tangisku,

 

“Kenapa seh? Ada apa?”

 

Ada yang lain di hatiku,
mengertilah, keluarkan aku dari penjara hatimu, biarkan sayap patahku mengepak,
biarkan aku terbang memburu dia yang terluka mengenangku disini yang sedang
bersamamu…

 

“Cape gw kayak gini terus”

 

Aku juga lelah, lelah
bersandiwara, lelah harus menyiapkan setumpuk skenario untuk berlakon di
depanmu…

 

“Terus nangis! Terus! Bikin gw ngerasa bersalah! Terus!”

 

Bukan dirimu yang bersalah, aku
bidadarimu, bidadari yang tak punya hati untukmu, hingga aku pun tega
menyuguhkan sekeping cinta menyakitkan, maaf…

 

“Gak adil, lo nnagis, gw gak tahu kenapa! Cerita! Cerita! Ada apa???”

 

Keadilan? Dia telah mati dibunuh
cupid yang murka dan seenaknya melesatkan panahnya! Ada apa? Tidak ada apa2
Pangeran, hanya ada segerat lukanya cinta menyakitkan yang tembus di
jantungku…

 

“Ah.. mau lo apa seh?”

 

Mauku apa? Aku ingin dirinya
disampingku sekarang, bukan dirimu…

 

Sejuta bentakan, sejuta tanya, sejuta omelan, kuterima, sampai dia lelah,
sementara air mataku belum kering…

 

“Sayang, sudah marah2nya?”

“kenapa? Mau ngomong sekarang?”

“nggak, aku mau tidur, aku cape…”

“CAPE MANA DIBANDING GW? MIKIR DONG JADI CEWEK…bla..bla..bla…”

 

Kupegang tangannya “sayang sudah ya? Cape!!!” mataku memohon, dia diam,
kilatan amarah masih menggantung di matanya…

 

Aku sembunyi dibalik selimut…

 

“Lo sama aja, cengeng! Bikin gw kecewa, dasar perempuan…selalu air mata
yang tumpah, bikin lelaki lemah!!!”

 

Maaf, hanya air mata yang bisa
kusuguhkan! Andai saja kau tahu betapa berdarahnya hatiku….

 

Sampai ketika kuantar kau kembali, hanya dua kata yang mampu kuucapkan…

 

“Maaf!”

“Terima kasih”

 

Bahkan ketika kau bilang : “I LUV U”

“Terima kasih”

 

Mata sembabku bisa menjadi jawabannya pangeran…

Langkah anggkuhmu, membuat bidadari tahu, satu bagian jiwa pangeran
terkoyak, maafkan aku yang tak bisa lagi bersandiwara…

 

 

 

MENGENANGMU DALAM LARA

Tuesday, April 17th, 2007


"Malang Berduka, 17 April 2007"


Bayangan satria dimana-mana…

Senyum…

Mata sayu…

Wajah mendung…

Hidung…

Bibir…

"Satria jika kau minta seumur hidup aku hanya menatap wajahmu, aku rela…"

Suara tawanya…

Suara marahnya…

Suara omelannya…

Rengekannya…

Desah nafasnya…

"Satria jika kau minta seumur hidup aku hanya mendengar suaramu, aku rela…"

 

Cumbu rayunya…

Permohonannya…

Marah2nya…

Kunikmati dalam memori bersama duka lara yang membiru di hati…

 

SMS2 cintanya…

SMS2 rindunya…

SMS2 keluhannya…

Kubaca berulang2…

Betapa besar cintamu Satria…

Butakah aku? Sampai ku-nafi-kan itu semua…

 

Sungai di mataku mengalir…

Ia terbuang menjadi lautan di hatiku…

Aku pun berenang di dalamnya…

Sejenak ia surut….

Sejenak ia pasang…

 

Jantung hatiku berdentam…

Aku berjalan dengan gontai…

 

Aku ingin terbang bersamamu angin…

Tapi sayapku telah patah…

Tolong bisikan nyanyian sendu pada satria…

 

“Bidadari sedang terkapar…

Ia tak berdaya di sudut sunyi sebuah kamar…

Sebelah otaknya retak…

Sepotong hatinya berdarah…

Di jantungnya hanya ada nama satria…

Jika ada sesuatu yang diinginkan bidadari sebelum ia melayang tanpa sayap:

ITU ADALAH SATRIA”

 

——————-

 

“ketika pagi (18 April) masih berduka,
dengan kompilasi luka hati dan luka usus plus luapan emosi kurang istirahat”

 

 

BERLUM(P)UR DUKA

Monday, April 16th, 2007

 


(Sebuah Catatan dari Jerit Hati Bidadari Terluka)

 

Di kursi no 8 lantai 2 ruang 3 gedung yusticia fak hukum brawijaya

Di belakang soal UTS ketika ujian Hukum Perjanjian Internasional berlangsung…


————–

MARI MASUK KE RUANG LAMUNAN SEBENTAR JIWA…

Ntah kenapa sebuah sms bisa sangat melukai…???

 

————————-

 

What???

 

6 panggilan tak terjawab…

1 sms masuk…

 

Dari:0815*****387

maaf dah
bnyk nyusahin lo dah buat lo terluka. gw ga akan ol lagi mksih tuk smuanya
tet"

15/4/2007 12:44

 

Panah tumpul cupid tembus di dada…

Aku menjerit kesakitan…

Sejuta makian pun tertuang…

 

Kupacu diri dengan se-danau air mata

Hujan Klakson…

Raungan Sirine Polisi…


–Ah busuk semua, hukum tak kenal hati yang sedang luka–

 

Sejuta permohonan…

Sejuta maaf…

Sejuta mengapa keluar…

 

Adakah yang lain dihatimu?

Adakah kau sedang balas dendam atas nama sejuta lelaki jahanam yang telah
kubuat mati bunuh diri?

Adakah cintamu yang sering kau katakan hanya basa-basi?

Adakah cintamu telah terhapus dengan kebiadabanku yang menggores luka di
hatimu?

 

Jadi mimpi itu…???

Mimpi yang datang padaku 3 malam berturut-turut…

Mimpi dengan tema yang sama “kau meninggalkanku dan memilih bidadari yang
lain”…

Mimpi yang membuatku benci tanpa alasan pada seseorang yang telah kurampok
jantung hatinya…

Mimpi yang membuatku membenci satu warna kehidupan…

Mimpi yang membuatku membuang semua hal yang berwarna sama dengan
namanya…

 

Mimpi itu…???

Adakah ia jadi nyata???

 

Sudut hatiku retak…

Se-laut air mata kau bilang buaya???

Padahal di rumahku tak satupun buaya kupelihara…

Mungkin aku pawang buaya, mungkin aku penakluk buaya…

Tapi denganmu tidak ada buaya yang terlibat…

{kedap gumujeng heula =))}

 

Hanya sepotong hati yang tulus mencintai…

Hanya sepotong jantung yang berdentang menyuarakan namamu…

 

Hanya ada cinta disini…

Cinta yang membuatku rela menghamba padamu sepanjang detak jantung yang
kupunya…

 

Hanya ada cinta disini…

Cinta yang rela melepas segala yang kupunya hanya untukmu…

 

Hanya ada cinta disini…

Cinta yang membuat mulutku berucap “aku rela asal kau bahagia”

Walau sepotong hati yang kupunya retak dan pecah…

 

“jangan tinggalin aku cay”

“tak akan”

 

Semua membaik…

Tapi aku masih terpuruk dengan luka yang tersayat…

Luka menganga dari cinta yang menyakitkan…

Masih seperti inikah rasa cinta?

 

Aku hapus air mata, aku tertawa, aku bahagia…

 

Kalbu masih menjerit…

Jerat aku satria…

gantung aku satria…

lukai aku satria…

kirim satu ton
racun…

bawakan aku pisau…

sayat aku pliss…

Ikat aku, jangan lepas…jangan…


Biar luka ini tinggal…jika itu berarti lukanya cinta menyakitkan…

I LOPE U CAY!!!


“baru saja kemaren bahagia, eh dah terluka lagi”

“nu borok saumur2 =))”

 

“tetra sayang ma Fafa gak?”

“hahahaha sayang atuh cinta, napa gitu?”

“cerita ada apa? Untuk siapa tangis itu?”

“hahahaha no comen ahhh”

 


Kau tak tahu kawan, aku sedang
berlumur oleh lumpur duka…

Tapi biar dia kunikmati sendiri
seperti biasa:-*

———-

 

MARI JIWA JATUH KEMBALI DI RUANG NYATA DI SETUMPUK SOAL TAK PENTING DAN TAK BERGUNA…


“Mbak isi soalnya bukan di kertas soal, tapi di polio ini…”

“Oh yah…:D”

 

 

 

 

 

 

JAHANAMNYA GW, TENGILNYA GW!!!

Wednesday, April 4th, 2007

 

3 April 2007

 

Amarah
ini harus kemana tumpahnya?

Rasa
bersalah ini harus kemana mencucinya?

Rasa
malu ini terendap di ujung jiwa, dan aku ingin menjadi manusia tanpa muka
!!!

 

Paginya Malang ada damai…

 

Udara masih suci, aku terbangun dari lelap…

Hmm…satu feel merasuk sukma…

Aku terpejam sejenak, menarik nafas dalam…

Lirih…lirih kusebut sebuah nama “I Lop U Cay”…”I Lop U”…

Ingin kunikmati suara itu lagi…ingin kurasakan kemesraan itu lagi…

Dan ketika aku rela mati untuknya, pagi semendung apapun tak akan membuatku
berhenti tersenyum…

 

Ahhhh…feel yang lain memukul sukma…

Betapa hinanya, ada arang tercoreng di muka…

Dan aku menjadi pesakitan tanpa grasi, tanpa amnesti, apalagi
rehabilitasi…

 

Aku terpekur…”kamu menjijikkan bidadari” selimut berteriak!

Ada luka lain tertoreh…

 

Maless ahhh…

 

Aku kembali terlelap, tak peduli waktu terus berlari…

Aku kembali terlelap dalam bayangan resah…

Aku terlelap dalam kubangan risih…

 

Agak siangnya Malang, kekacauan
dimulai…

 

Gila 5 menit lagi kuliah dimulai, belum mandi, belum noong agenda kerja
hari ini…waaaa baju juga lom diseterika (kayak yang suka seterika aja :D)…

 

Dengan keterampilan seorang mahasiswa telad-an (baca: telat-an) semua
kulalui dalam waktu 30 menit, campur perang klakson, plus maki2 satpam yang
telat buka gerbang…

 

Masuk kelas dengan nebalin muka…dosen sedang ngoceh kesana kemari, pala
mulai mumet…aku pun bengong dengan otak kosong…

Satu kata tercetak di dahi “Kamu tambah jahanam bidadari!!!”

 

Tambah siangnya Malang, mulai tak
terkendali…

 

Klien rese…pengen ditonjok kayaknya…

Ngoceh gak karuan, ditanya ke ujung barat, jawabnya lari ke ujung
Timur…Pala pun nyut2an…

 

Klien rewel, mintanya macam2, disuguhi ati minta jantung…

 

Sekuat tenanga kutahan panas hati, jangan sampe meledak dan
terbakar…(profesional Sis!)

 

Sebuah sms masuk di pleksi “temui saya jam berapa saja, penting!”

SIAP JENDRAL! Nasib jadi kuli ya gini inih :(

 

Tengah harinya Malang, kampus
memuakkan…

 

Sebuah senyum menyebalkan menyambutku…

Duh kena kutukan apa diriku, sampai harus menghadapi mayat hidup yang masih
menggoda untuk ditikam…

 

Dua tanduk di kepala tumbuh, aku menyeringai…

“Mumi kemarilah, berikan lehermu! Biar bidadari hisap darahmu sampai
sekarat, sampai kau tak tahu rasanya jadi mayat sekalipun”

 

Seorang OB menghampiri…kupikir mungkin menyelamatkanku…

 

“Mbak Tetra ya?”

“iya Mas, ada apa? Barang2 saya ada yang ketinggalan lagi ya :D?”

“Nda kok Mbak, Mbak Tetra dipanggil PD I…”

 

Semua orang terperangah…

Dosa apa aku? Perasaan tidak ada kejahatan akademik yang kulakukan selain
bolos kuliah dengan terhormat…

Memang seeh IP kemaren sempat turun, tapi bukan berarti ada yang dirugikan,
gak ada onrechmatigdaad inih… :-??

Dengan segumpal tanya, kuseret kaki menuju Gedung Dekanat…

20 menit sukses lah diriku diberi ceramah kesana kemari…serasa keluar
lubang harimau masuk sarang buaya…capee deeh…

“Nasibmu Nduk jadi mahasiswi kelinci percobaan!!!”

 

Petangnya Malang, Kampus terbakar…

 

Gila!!! Hati tak bisa berhenti mengutuk…

Kalau bisa aku ingin mengubur diri saja…

 

Kuceritakan galauku pada seorang teman, dia pun memaki, dan aku tahu aku
memang jahanam…(makasih My Blue Heart)

 

Ah cinta mengapa amat menyakitkan?
Sekali jatuh cinta, segudang ke-jahanam-an terbangun…

 

Bidadari bercerita pada satria…

Hasilnya?

Dari dulu seharusnya Bidadari tutup mulut saja!

Satria pun terluka…satu perisai-nya retak…

Bidadari tersedu, satu sayapnya kembali patah…

 

Dengan setumpuk kegalauan itu, aku melayang menuju kampus, sore seeh, tapi
Parkiran Hukum penuh, aku melaju menuju Parkiran Teknik…

 

3 orang mahasiswa berjaket “elektro” bersenda gurau…tertawa lepas…

Aku tertohok…iri…kenapa? di saat ada kegalauan, kenapa ada yang tertawa
tanpa beban?

 

Genangan air hujan di samping mereka…gas kuinjak…

Brrr…tiga mahasiswa basah kuyup…

Aku tertawa antara puas dan mengutuk diri…

 

Sukses parkir di Teknik, aku melenggang…

Tiga mahasiswa bersungut2, kuhampiri, tersenyum tengil…

“Basah yah Mas? Ato belum mandi neeh? Mandi gih sonoh…ntar teknik bau
kambing lagih…”

“Jancuk…M**** A**** Bla bla bla…”

Sejuta makian tumpah ruah… aku melenggang dengan puas…

(Tetra apa yang kau mau? Musuh?)

 

Kuliah masih bengong, kuakui aku memang dong-dong…

 

Selesai kuliah, kembali ke Parkiran Teknik…

Whats??? Myz penuh dengan tanah…aku memaki dalam hati…sesungging senyum
jahanam hinggap di bibir, aku tertawa, tak tahu apa yang lucu, yang kutahu klo
aku marah maka mereka berhasil…

 

Aku tahu mereka ada di dekat sana…

Aku pun berteriak (nggak keras seeh, cuman yakin mereka mendengarnya),

 

“Ayam semua nih, pengecut, otak ditaruh di dengkul kalee, klo berani sinih
perkosa gw”

 

Seharusnya, seharusnya, ayam itu aku, pengecut itu aku, yah seharusnya…

 

Jahanam itu aku, tengil itu aku…

 

Menarik nafas pelan…aku kembali ke pangkuan damai ujung kersen 149…

 

———————

 

Resah ini, kemana akan kuadukan…

Aku pun sendiri dalam pelukan damai sebuah suara…

Satria, jangan tinggalkan aku! Jangan pernah berpikir
untuk meninggalkanku…

Satria belah dadaku, aku cinta kau sampai mati (dari
lagunya Dewa ‘Dewi Belahlah dadaku, aku cinta kau sampai mati’)

Cintaiku dengan segala hasrat yang kau punya…

Biar aku jahanam…nikmati aku dengan kebiadaban yang ku
punya…

Jangan tinggalkan aku Satria, hanya karena ke-jahanam-an
ku membuatmu terjatuh dan terluka…

Jangan biarkan aku terluka sendirian…

(Ah bidadari egois…)